better popcorn than a porn
better nacho than a dildo
better screenplay than a foreplay
follow : @cinematicorgasm by : @ima_an
contributilator :
@adit_curious
@pemudasehat

Doris: I’m unhappy. | George Valentin: So are millions of us.

Director: Michel Hazanavicius | Writer: Michel Hazanavicius (scenario and dialogue) | Stars: Jean Dujardin, Bérénice Bejo and John Goodman

The Artist menceritakan aktor terkenal di masanya (menurut film itu) benama George Valentin. Dia telah membintangi banyak film bisu dan menjadi aktor yang sangat terkenal, begitu pula sahabatnya seekor anjing. Hingga suatu hari produser film ingin melakukan sebuah perubahan besar, yaitu film yang ada percakapan, walaupun masih belum berwarna. George Valentin masih teguh dengan pendiriannya, bahwa film bisu masih banyak diminati. Hingga dia membuat film sendiri film bisu itu….

Jika ada ungkapan kehidupan itu seperti roda yang berputar, hal ini juga terjadi di dunia perfilman. Roda yang berputar bukan dalam sebuah makna kadang kita pada posisi yang atas (kesuksessan) atau posisi di bawah (kegagalan), akan tetapi berputar seperti sebuah repetisi atau pengulangan sebuah hal yang pernah terjadi dan ada sebelumnya kini terjadi kembali. Film The Artist yang disutradari oleh Michel Hazanavicus seorang warga Prancis ini memang membahas ttg itu. (maaf agak spoiler) Selain seperti apa nampak film itu terlihat di mata penontonnya, film itu memang sedikit menyinggung mengenai ‘bagaimana si roda mulai berputar”. Akan saya jelaskan di dua paragraf berikut.

Film ini adalah film BW (black and wahite), dengan amat minim sekali percakapan, hanya musik latar yang mengiringinya. Keuntungan bagi movie download geek seperti saya adalah tidak perlu menunggu hingga file blue ray rip atau DVD rip untuk didownload, TS sepertinya sudah cukup, bahkan makin memperkuat nuansa oldie film ini. Generasi seperti saya tumbuh dan berkembang dengan TV cembung bewarna, sehingga wajar agak terasa aneh jika (beberapa bulan lalu) menonton Charlie Chaplin yang berdudul The Great Ditactor dan In Modern Times. Sebagai pecinta film, hallo effect atau prejudice memang harus dihilangkan, tidak boleh ada sama sekali judgement yang menyiksa film itu walaupun kamu sudah tau film itu dibintangi oleh siapa, trailernya seperti apa, sutradaranya siapa, seperti apa ceritanya, dan pendapat teman-temanmu yang sudah menontonnya. Sebuah keadaan ‘kosong’ sebelum menonton film dibutuhkan untuk memberikan penilaian yang sangat objektif bersifat subjektif kepada sebuah film.

Ok, perhatikan kata-kata kunci berikut ini: sebuah film hitam putih, bisu tanpa percakapan, hanya musik, text yang minim untuk menjelaskan maksud perilaku sebuah adegan, humor yang ketinggalan jaman, retro. Apa pendapatmu ? » membosankan ? / misterius ? / penasaran ? / seru ?

Silahkan tonton The Artist, degan keadaan ‘kosong’ tentunya.

Film ini tidak memiliki alur/ploy cerita yang memukau, sangat terasa konvensional, namun nuansa retro yang sangat bisa diterima oleh penontonnya masa kini. Dengan warna hitam putih, klimaksnya tidak terlalu menampar, walaupun scoringnya terlihat sangat pas menggiring emosi penonton mau dibawa kemana: tertawa, tersenyum, mengerutkan dahi, atau terharu. Sang artist, Dujardin, dan para artist lainlah yang menjadi soul film ini, bagaimana mereka saling beradu akting menjadi salah satu kelebihan yang menarik untuk terus ditonton. akan teapi saya tidak bisa menilai bagian-demi-bagian film ini, secara holistic krn film ini memang terkesan sangat FRESH !!! «< inilah alasan kenapa film ini sangat bagus !

cinematicorgasm rate : 88/100


The Artist (2011)

“this place is a moral lepra colony..” (The Sunset Limited)


Director: Tommy Lee Jones | Writers: Cormac McCarthy, Cormac McCarthy (play) | Stars: Samuel L. Jackson and Tommy Lee Jones

Biasanya, sebuah film yang terkesan sangat megah, pasti mengeluarkan banyak biaya untuk memperlihatkan adegan-adegan mahal, scene dengan landscape maupun landmark yang orisinil, studio yang megah, kostum dan makeup yang ribet, kamera HD yang mahal, atau mungkin yang akan terus berkembang adalah memperlihatkan scene dengan special effect yang sangat rumit. Sebut saja film-film yang digarap oleh Michael Bay seperti Armageddon dan Transformer, atau film-film lain bertemakan sci-fi yg mengambil latar belakang luar angkasa. Film-film itu biasanya akan sangat laris, karena untuk itulah sebuah film dibuat, untuk penontonnya, dimana para penontonnya–juga manusia biasa– adalah makhluk yang haus akan suplemen otak yaitu hiburan maupun imajinasi, dan para produser bisa menyedikan itu di sebuah tempat yang bernama bioskop, tv, layar monitor, LCD atau lainnya. Sebelum teknologi TV dan sebagainya ditemukan, manusia juga sudah menemukan bagaimana memenuhi rasa haus yang saya sebutkan tadi, yaitu menuangkan ide dalam sebuah naskah dialog, dan aktor artis bermain peran di dalamnya, saling berakting di sebuah panggung yang sama, atau disebut sebagai ‘play’ atau di Indonesia akrab dengan sebutan ‘teater’.

Film ini diambil dari naskah “play” yang saya maksudkan, oleh Cormac McCarthy.

Satu film dengan dialog yang luar biasa, seakan akan dialog itu sendiri menggambarkan dua orang yang saling memukul, atau ledakan mobil, atau adegan action di film-film action. Terkadang naskah/screenplay yang membuat dialog dalam sebuah tak kalah seru dengan menonton adegan action yang menegangkan. The Sunset Limited mengingatkan film yg berjudul Frost/Nixon {disini review saya} sebuah film based on true story mengkisahkan reporter bernama Frost mewawancarai presiden as yg baru saja terkena skandal Water Gate, Presiden Nixon. Dialog-dialog di film itu sangatseru, seperti juga di film The Sunset Limited ini. The Sunset Limited menceritakan dua orang, kulit putih (White) dan kulit hitam (Black) di sebuah ruang apartemen milik Black yang sednag berbincang-bincang. Selama kurang lebih 90 menit 99% film ini hanya berbincang-bincang saja, tidak keluar dari situ, tidak ada orang lain yang disotor, dan juga tidak menyorot tempat lain pula kecuali kamar apartemen milik Black itu. Mereka membincangkan banyak hal. Inti permbicaraan mereka adlaah mengenai faith and believes, apa yang dipercayai si White dan apa yang dipercayai si Black. Apa yang mereka percayai sering bertolak belakang.

Kalau kalian menyukai film yang “ngomong thok” atau “hanya berbicara”, film ini bagus!

White: The darker picture is always the correct one. When you read the history of the world you are reading a saga of bloodshed and greed and folly the import of which is impossible to ignore. And yet we imagine that the future will somehow be different.

Black: The light is all around you but you don’t see nothing but shadow. And you’re the one causing it. It’s you. You’re the shadow! That’s the point.

Cinematicorgasm rate 80/100

The Sunset Limited (2011)

Director: François Girard | Writers: Don McKellar, François Girard | Stars: Carlo Cecchi, Jean-Luc Bideau, Christoph Koncz, and Samuel L. Jackson

Kalau tidak salah, sekitar saya masih tinggal di rumah orang tua, waktu SMP, hingga lewat tengah malam saya menonton sebuah film di salah satu stasiun TV swasta, bercerita tentang sebuah biola legendaris yang berpindah dari tangan ke tangan, sebuah biola spesial yang mengeluarkan suara luar biasa, The Red Violin. Lalu setelah VCD original keluar, ada keinginan untuk menonton film ini lagi. Entah di Video Ezy, Win Dics, atau persewaan VCD originnal lainnya, saya tidak menemukan film ini. Hingga 2 tahun terakhir mengenal teknologi internet Download Manager dan Torrent, baru minggu lalu saya berhasil mendapatkan film ini dengan mendownloadnya. Mencari subtitle yang pas juga demikian, jangankan subtitle bahasa Indonesia, subtitle bahasa Inggris juga sering tidak pas, memaksa saya harus mengsyncronize subtitle yang telah didapatkan. Sebenarnya saya kembali menonton film ini karena film Poll yang saya tonton di #germancinema 2 minggu lalu. Di Poll terdapat sebuah scene permainan biola/cello yg sangat indah, dalam, namun penuh dengan emosi manusia.

Opening film ini menceritakan pembuat biola dari Italia yang legendaris, bernama Bussoti, setting pada tahun 1600-an. Dia telah banyak membuat biola, dan masa kini biolanya bernilai milyaran. Bussoti sedang membuat biola spesial yang akan diberikan kepada anaknya, istrinya masih mengandung pada saat itu. Akhirnya sang istri melahirkan, akan tetapi sang istri meninggal. Akhirnya Bussoti menyelesaikan biola spesial itu, akan tetapi dia sumbangkan kepada panti asuhan. Waktu silih berganti, banyak anak panti asuhan memankan biola itu dengan sangat indah.

Yang saya sukai dari film drama ini adalah dramatisir dari biola itu. Plot yang cukup unik untuk film yang muncul di tahun 1993, agak campuran maju dan mundul, menjadi sebuah kesimpulan yang utuh sebuah film drama yang sangat dramatis. Kedua, film ini seiring perjalanan biola mulai th 1600an hingga 1900an, menggunkaan banyak bahasa, Italia, Prancis, China, dan Inggris. Memperlihatkan scne banyak negara, banyak budaya, dan banyak pula peristiwa sejarah.

cinematicorgasm rate : 81/100

Le Violon Rouge/The Red Violin (1998)

Directed by Bennett Miller (Capote) | Steven Zaillian (screenplay) and Aaron Sorkin (screenplay), Stan Chervin (story), Michael Lewis (book “Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game”) | Cast : Brad Pitt (Billy Beane), Jonah Hill (Peter Brand), Philip Seymour Hoffman (Art Howe), Robin Wright (Sharon)

Saya telah menonton film ini sekitar beberapa minggu yang alu, dan film yang bagus adalah film yang sulit diungkapkan dengan kata-kata untuk mengomentarinya. Seperti film ini. Saya pribadi menilai cinmatic orgasm rate 90/100, excellent! Bukan karena Brad Pitt, bukan karena Seymor Hofman, dan bukan karena based on true story, especially biography of Billy Beane. Tetapi film ini memang benar-benar bagus. Namun saya tetap memuji akting Brad Pitt, di film ini dia memerankan Billy Beane dan Pitt benar-benar mengeluarkan personality Beane dengan sangat extraordinary (penilaian saya sendiri sebagai orang yang benar-benar tidak mengenal Billy Beane). Jonah Hill yg memerankan Peter Brand sebagai “statistic-geek” menaikkan level dia sebagai aktor hollywood. Film yang masih saya ingat diperankan oleh Jonah, adalah sebagai aktor pendukung di film The Invention of Lying dan so so saja. Bennet Miller, sang sutradara, masih belum akrab di telinga saya. Setelah saya search lewat IMDB, ternyata dia adalah sutradara film Capote, film ini cukup jenius, terutama menggunakan Seymor Hoffman juga di film Capote ini (sebagai penulis novel). Sedangkan Philip Seymour Hoffman, si aktor serba bisa, dia memerankan Art Howe di Moneyball ini, seorang pelatih baseball yang tetap mengandalkan insting untuk melatih para pasukannya. Untuk aktingnya? seperti biasanya.

Kembali ke Brad Pitt, 100% i’m absolutely agree dia mendapatkan nominasi aktor terbaik di The Academy. Dan mengingat film Brad Pitt yang lalu-lalu, sebagai Rusty di Ocean’s 11, sebagai Benjamin di the Curious Case of Benjamin Button, sebagai Tyler Durden di Fight Club, saya membandingkan, performanya paling hebat memerankan Billy Beane ini. Hey, di Moneyball ini Brad Pitt selain menjadi aktor leading, dia juga memiliki peran penting, yaitu sebagai produser juga. Jadi saya punya dugaan, seseroang bernama Pitt, memiliki hobby bermain dan menonton baseball. Lalu pada suatu saat, dia menjadi saksi kehebatan Billy Beane seorang manager klub baseball Oakland Athletics yang menang berturut-turut selama 20 kali. Lalu dia jadi aktir besar dan sudah memproduseri beberpaa film, da Pitt berfikir, “aku harus membuat film ttg Billy Beane, aku akan memproduserinya, dan sekalian saja menjadi aktor memerankan Billy Beane di film itu”. Hahaha, hanya dugaan.

Di paragraf awal, saya sempat mengatakan, bukan karena Brad Pitt saya menilai film ini 90 dari 100. Akan saya kupas satu persatu mengapa seprti itu. Pertama, film ini adalah film based on true story, khususnya biography Billy Beane (seorang manager klub baseball Oakland Athletics). dari awal hingga akhir, sekitar 85 % film ini hanya menfokuskan pada Billy Beane saja. Dia menjadi pusat perhatian di film ini. untuk membuat film seperti itu si sutradara dan tim harus benar-benar hati-hati, karena bisa terjadi dua akibat, 1. membosankan karena berlebihan, 2. menjadi film bagus, tetapi agak menyombongkan karakter. Nah, film Moneyball ini tidak seperti itu. Walaupun 85% bahkan lebih film ini hanya terfokus pada Billy Beane saja, tetapi si sutradara dan tim bisa membutanya dengan sangat cantik. Bagaikan sebuah brownies, menjadi brownies kukus yang matang sperpurnha di seluruh bagiannya. Karena karakter Billy Beane yang diungkap dan digambarkan di film ini sangat ideal, holistic, dan equilibrium :p. Bagaimana konflik batin (ekspresi wajah) saat menghadapi kegagalan, bagaimana dia berfikir, bagaimana dia mengambil keputusan, bagaimana sikap egois menjadi ciri khasnya, dan bagaimana dia mempercayai pasukannya untuk memenangkan sebuah pertandingan baseball. Ini alasan pertama.

Kedua, film ini memiliki editing gambar dan suara yang sangat konvensional, tidak berlebihan, perlahan, sederhana, pasti, tapi mengagumkan. Hal ini berhubungan dengan alur atau plot cerita yang digiring di film ini dari awal hinga akhir. Coba perhatikan, editing gambar film ini itu sangat biasa saja, tetapi pengambilan gambar, “peramuan”, dan mixing terlihat sangat mengagumkan. Nah, alasan kedua ini yang saya bingung harus berkata apa. Kalau saya simpulkan, walaupuan konvensional dan sederhana, tetapi editing gambar dan suara film ini tetap memunculkan jiwa dan value apa yang dibawa dari film ini. Ini alasan kedua.

Ketiga, film ini adalah film yang bertemakan ttg baseball, khususnya bagaimana mengelola atau memanage tim baseball untuk mengatur komposisi tim dan memenagkan pertandingan. Billy Beane adalah soerang manager, dan Jonah Hill adalah asisten yg dikenal “statistic-geek”. Tiga kata kunci, ‘baseball’, ‘tim management’, ‘group dynamics’. Menurutku, i my humble opinion, tiga kata kunci ini yang menjadi “soul” dari film ini, sebuah “soul” yang membuat film ini bagus untuk ditonton. PERTAMA, ‘baseball’. Baseball adalah olah raga. Dalam olah raga pasti ada kompetisi. Dalam kompetisi pasti ada menang dan kalah (dan juga draw yang jarang muncul). KEDUA, ‘tim management’. Sepengetahuan saya dalam manajemen pasti berkutat issue-issue sbb: kepemimpinan (manajer, pelatih), objectives/tujuan-tujuan (memenangkan pertandingan, memperoleh pemain bagus), resources/sumberdaya (lapangan, fasilitas,uang, dana), pengambilan keputusan (penyusunan komposisi tim). Ada POAC (planning, organizing, action, controlling) disitu. KETIGA, ‘group dynamics’ atau dinamika kelompok. Teringat mata kuliah Dinamika Kelompok yang diajar oleh bu Ike beberapa tahun yang lalu, “konflik meningkatkan peforma”, terlihat juga di film ini. Siapa saja yg terlibat? manager, para pencari bakat, asisten manager, coach, dan tentunya para pemain. Ini alasan ketiga.

Keempat, hal ini langsung saya tweet setelah menonton film ini. Kalo tidak salah seperti ini : “klimaks film ini keren banget, scene yang menggambarkan klimaksnya seakan diputar 359 derajat”. Maksud saya adalah, saya sangat suka bagaimana Moneyball menggambarkan klimaksnya, terutama bagaiaman ekspresi dan perilaku Billy Beane digambarkan. Kenapa saya mengatakan 359 derajat, karena walapun datar, tanpa ada tepuk tangan, atau latar belakang suara yang bergemuruh, klimaks film ini sangat orisinil dan mengagumkan. Dan juga, anti klimaks yang disajikan di film ini juga tak kalah macho. Ini alasan keempat.

hehehehehe

cinematicorgasm rate 90/100

Moneyball (2011)
good morning, stop complaining, and start dancing (kurniadi, 2011)

good morning, stop complaining, and start dancing (kurniadi, 2011)

(via wordgraphics)

Director: Chris Kraus | Writers: Chris Kraus (screenplay), Oda Schaefer (memoirs) | Stars: Paula Beer, Edgar Selge and Tambet Tuisk

Kelam dan emosional, ini kesan yang saya dapatkan setelah menonton film ini, berjudul Poll atau The Poll diaries. Kebetulan saya menontonnya bersama teman, dan teman saya perkata, “oh wilayah yang namanya Poll ini kalau tidak salah nanti akan bernama negara Polandia”. Jika benar begitu, maka film yang kelam ini mungkin ada hubungannya dengan perang dunia pertama, dan memang seperti itu, ending film ini sedikit menyinggung PD 1.

Diambil dari kisah nyata, bercerita tentang gadis kecil berusia 14 tahun bernama Oda, dimana sepeninggal ibunya, dia harus pindah ke wilayah Poll dimana ayahmya tinggal bersama istri barunya. Ayahnya adalah seorang dokter/professor dengan rasa ingin tahu yg tinggi, seringkali meneliti organ-organ manusia, semisal, dia ingin membedakan bentuk otak penjahat dan otak non penjahat. Secara tidak sengaja, Oda bertemu dengan oerang penjahat terpelajar yg terluka, kemudia dia merawatnya, dan belajar tentang menulis darinya, menulis puisi.

Kelam dan emosional, miserable mungkin kata yang tepat. Selain lebih didominasi dengan cuaca yang mendung, konflik antara anggota keluarga yang membuat suasana suram, selain itu juga diperkuat dengan scoring permainan cello dan biola yang emosional. Terutama biola, mengingatkan saya pada film Red Violin dan The Soloist, dimana terdapat scene yg menggambarkan permainan biola, dari permainannya kita tahu bahwa dia sedih, marah, penyesalan mendalam. Begitu juga permainan biola di Poll Diaries ini, padahal saya tidak begitu paham dan tidak bisa memankan alat musik gesek ini. Film ini terkesan dangat mendalam dilihat dari bagaimana penyutradaraan dan editing dari film ini, dengan dipenuhi pula dialog-dialog yang tajam namun juga mendalam, character twist yang cukup memukau.

cinematicorgasm rate : 74/100

Pool (2010) aka The Poll Diaries

Director: Ralf Huettner | Writer: Florian David Fitz (screenplay) | Stars: Florian David Fitz, Karoline Herfurth and Heino Ferch

Vincent Will Meer adalah film ketujuh dari film #germancinema yg saya tonton di hari ketiga. Selama tiga hari menonton 8 film, saya tidak akan menyebutkan film mana film terbaik diantara 8 film yang saya tonton secara gratis di #germancinema, tetapi film ini — film yang mengisahkan pemuda bernama Vincent — film ini yang paling memberikan kesan membahagiakan dengan sangat mendalam. Mengapa? karena, satu, film ini juga bisa dikatakan bertema traveling, kedua, sebagai pelaku traveler adalah orag-orang with psycho-pathology syndrome.

Sebelum membahas Vincent Will Meer lebih lanjut, mari kita berwikipedia dulu :

Tourette syndrome (also called Tourette’s syndrome, Tourette’s disorder, Gilles de la Tourette syndrome, GTS or, more commonly, simply Tourette’s or TS) is an inherited neuropsychiatric disorder with onset in childhood, characterized by multiple physical (motor) tics and at least one vocal (phonic) tic. These tics characteristically wax and wane, can be suppressed temporarily, and are preceded by a premonitory urge. Tourette’s is defined as part of a spectrum of tic disorders, which includes transient and chronic tics.
Tourette’s was once considered a rare and bizarre syndrome, most often associated with the exclamation of obscene words or socially inappropriate and derogatory remarks (coprolalia), but this symptom is present in only a small minority of people with Tourette’s.[1] Tourette’s is no longer considered a rare condition, but it is not always correctly identified because most cases are mild and the severity of tics decreases for most children as they pass through adolescence. Between .4% and 3.8% of children ages 5 to 18 may have Tourette’s;[2] the prevalence of transient and chronic tics in school-age children is higher, with the more common tics of eye blinking, coughing, throat clearing, sniffing, and facial movements. Extreme Tourette’s in adulthood is a rarity, and Tourette’s does not adversely affect intelligence or life expectancy. [sumber]

Tourette’s syndrome atau TS, adalah sebuah kelainan dengan menunjukkan gerakan motorik secara berulang ulang dengan tiba-tiba dan seringkali diiringi dengan vokal atau perkataan. TS adalah sebuah kelainan saraf yang mulai diderita dari anak-anak hingga dewasa. Grakan-gerakan itu dipacu oleh stress, kelelahan, dan kecemasan pada penderitanya. Inilah yang diderita oleh Vincent (diperankan oleh Florian David Fitz).

Vincent Will Meer menceritakan Vincent, penderita TS, Marie, penderita Anaroxia nevorsa, dan Alexander, penderita obsessive compulsive disorder/OCD, yang melarikan diri dari pusat rehabilitasi untuk pergi ke Italia untuk melihat laut, sebuah perjalanan untuk memenuhi keinginan terakhir ibu kandung Vincent untuk melihat laut. Sayangnya, ibu Vincent sudah meninggal ketika Vincent kecil. Inilah yang saya sukai dari film ini, setengah dari film ini menceritakan perjalanan yang dilakukan 3 orang “disable”, dan film-film ini dipenuhi dengan perilaku-perilaku lucu bagaimana 3 orang itu — terutama Vincent dg TS-nya dan Alxander dg OCDnya — menempuh perjalanan dan memaksa mereka untuk tetap merasa nyaman dengan yang mereka lakukan. Melakukan perjalanan German ke Italia, mereka menempuh jalur pegunungan dan membuat scene-scene di film ini dengan landscape luar biasa memunculkan pada otak saya, “saya pengen kesitu!”

Tertawa dan tersenyum lepas sepanjang film, buka karena adegan atau percakapan yang ‘sengaja’ dibuat lucu, tetapi bagaimana mereka, para penderita itu menunjukkan perilakunya. Contoh perilaku-perilaku penderita TS dan OCD inilah yang menjadi ‘plus-plus-ingredients’ disamping ‘main-ingredients’ yaitu konflik ayah-anak antara Vincent degan ayahnya. Percakapannya sederhana, plotnya tidak terlalu rumit, dan konflik yang dibawa di film ini juga tidak terlalu kompleks. Awal film dibanguan secara perlahan untuk membangun klimaks yang ringan, dengan bagian-bagian yang disampaikan di tengah-tengah film ini juga membangun klimaks dan ending film yang sangat mengsispirasi penontonnya, plus terharu. Ending film ini adalah ending yang benar-benar saya harapkan. Kesan saya, “renyah, menghubur, dan membahagiakan”.

Ada hal yang menarik yang saya temukan bahwa screenplay atau penulis naskah dari film ini adalah Florian David Fitz, dan dia tidak lain adalah aktor yang memerankan Vincent di tokoh utama. IMHO Florian David Fitz sangat brilian melakukan akting sebagai Vincnet, selaia sebagai penderita TS, sebagai anak yang selalu tidak sependapat dg ayahnya, dan juga sebagai teman seperjalanan Alex dan Marie.

Nilai atau value bisa saya peroleh di film ini. Terkadang traveler melakukan perjalanan dengan melakukan misi khusus atau tujuan hidup khusus. Terkadang soerang traveler membuat plan untuk melakukan perjalanan dan destinasi yang sudah ditentukan. Terkadang seorang traveler secara impulsive melakukan perjalanan tanpa plan, atau bahkan tanpa destinasi, pergi ke stasiun atau ke terminal bus, dan secara random naik kereta atau bus dan menggantungkan nasib kemana kereta atau bus itu membawanya pergi. Terkadang pula seorang traveler melakukan perjalanan untuk melanjutkan perjalanan orang lain yang belum tuntas. Alasan-alasan seperti itu ditemukan di film Teh Motorcycle Diaries, The Way, Into the Wild, The Art of travel, dll. Akan tetapi bagaimana jika kamu adalah sosok yang diluar distribusi normal, bahkan tidak normal. Dimana kamu adlaah penderita penyakit psikologis (secara kelainan saraf atau tidak) melakukan sebuah perjalanan, dimana ciri ini sering terlihat pada penderita psikopatologis, yaitu karakteristik “ketidakmampuan dalam beradaptasi dan bersosialisasi” atau un-adaptable dan un-sociable. Kamu akan menemukan hambatan pertama saat pertama kali membeli tiket di loket, atau masuk kereta dan duduk disamping orang lain yang tidak kamu kenal, atau bagaimana kamu mengatasi kecemasan ketika orang-orang menatap kamu, atau bagaimana stress nya paksaan untuk berkomunikasi dengan orang lokal. Disinilah benar-benar memberikan pengertian dari value : “keluar dari zona nyaman”.

cinematicorgasm rate : 85/100

Vincent Will Meer (2010) (aka Vincent Wants to Sea)

Director: Alain Gsponer | Writers: Martin Suter (novel), Alex Buresch (screenplay) | Stars: Daniel Brühl, Hannah Herzsprung and Henry Hübchen

Film ini adl film ke 6 di hari kedua dari film-film #germancinema yg saya tonton. Lila Lila aka My Words, My Lies, My Love memang film ini menceritakan ttg Lila, Words, Lies, dan Love. Film ini mengkisahkan novel berjudul Lila Lila yang ditulis oleh David Kern (si tokoh utama), mengkisahkan juga ttg Words oleh David Kern (percakapan monolog sepanjang film), mengkisahkan Lies dari David Kern, dan mengkisahkan juga Love dari David Kern. Saya tidak akan menceirtakan spoiler, pokoknya film ini semuanya mengenai pria yang bernama David Kern, sorang pelayan di sebuah bar yang tiba-tiba menjadi sangat terkenal di Jerman karena novelnya. Saya sangat suka dengan akting Daniel Bruhl yang memerankan David Kern, superb malah. Dia sangat tepat memerakan pria dengan kepribadian kompulsif sekaligus inferior. Film ini ringat, plot yang digiring pun tidak rumit. Film ini bergenre romantic-comedy, menceritakan David Kern yang sangat inferior, tidak percaya diri, dan agak stuttering/gagap. Bahkan dia merasa seolah-olah dia menjadi tidak nampak di mata wanita. Nasibnya 180 derajat berubah ketika dia membeli meja bekas seharga 15 euro. lucu kan?

cinematicorgasm rate : 68/100

Lila Lila (2009) aka My Words, My Lies, My Love

Director: Feo Aladag | Writer: Feo Aladag | Stars: Sibel Kekilli, Nizam Schiller and Derya Alabora

Die Fremde adalah film kelima di hari kedua #germancinema yang saya tonton. Film ini menceritakan seorang wanita berusia 25 tahun bernama Umay, asal usulnya dari sebuah keluarga Turki yang hidup di Jerman. Dia menikah dg soerang pria di Turki, dengan cara dijodohkan oleh ayahnya sendiri. Memiliki anak laki-laki, dan kehidupan rumahtangganya sama sekali tidak memberikan kebahagiaan. Akhirnya Umay melarikan diri dari suaminya kembali ke Jerman. Disinlah faktor budaya membuat situasi semakin sulit. Umay dianggap pihak yang paling bersalah, dan keluarganya juga tidak menerima kehadirannya, terutama kandungnya sendiri. Akhirnya Umay menciba bertahan hidup sendiri.

Film yang berdurasi 119 menit ini sangat terasa lama sekali, karena banyak scene-scene yang memperlihatkan percakapan silent dan hanya mengandalakan ekspresi wajah dan tatapan muka. hal ini diperkuat dengan tidak adanya dialog yang rumit. Konflik yang dibawa di film ini adlaah faktor budaya, khususnya budaya Islam dan Turki yang diperlihatkan dengan sangat kental. Saya sangat mengapresiasi akting Sibel Kekilli yang memerankan Umay, dua jempol untuk dia, berakting diam, marah dan senang luar biasa kesemua-semuanya.

Satu hal kesan yang diberikan film ini adlaah “kurang lengkap”. Untuk ke-silence dan silent-ya film ini syaa sama sekali tdk menjadi masalah. Akan tetapi untuk membanguan film dari awal hingga ke bagian sebelum akhir, film ini terasa kurang lengkap untuk menyimpulkan di ending film : sebuah adegan tragis. Jadi pertama, sepertinya ada bagian yang belum diceritakan kenapa endingnya harus seperti itu, kedua, seharusny jalan ceorta bisa lebih dibuat lengkap agar ending yang seperti “itu” ketragisannya benar-benar bisa membuat penontonnya menitihkan air mata. good take..

cinematicorgasm rate : 71/100

Die Fremde (2010) aka When We Leave

Director: Dennis Gansel| Writers: Dennis Gansel, Todd Strasser (novel) | Stars: Jürgen Vogel, Frederick Lau and Max Riemelt

Berdasarkan kisah nyata, film ini dibukan dengan tulisan itu, kemudian scene menggambarkan pria dewasa yang bitak mengendarai mobil dengan serampangan, sambil mendenagrkan musik semacam musik garage dan musik punk. Tenryata pria itu adalah seorang guru, di sebuah sekolah menengah keatas, merangkap pelatih water-polo, dna juga guru yang memimpin sebuah mata pelajaran proyek khusus : autocracy. Kelas yang hanya di jalankan 7 hari ini mempelajari dan membuat sebuah eksperimen untuk mendemonstrasikan seperti apa rasanya dibawah sebuah autocracy ataudictatorship. Mereka mempraktekkan segalanya, mulai dari kepatuhan, kedisiplinan, uniformitas, brotherhood, dan juga identitas. Dan identitas kelompok mereka mereka namakan “the wave” atau dalam bahasa jerman “die welle”. Si guru tidak bisa mengontrol sejauh mana murid-muridnya merasakan pengalaman ttg kelas autocracy ini dan sejauh mana mereka bisa berkembang. Dan akhirnya kelompok itu menjadi di luar kontrol.

Film ini adalah film keempat di hari kedua yang saya tonton di #germancinema dengan gratis tentunya. Film pertama Baader meinhof Complex yang juag berdasarkan kisah nyata, hanya terfokus ada dua karakter Badeer dan Meinhoff Saja, John Rabe lebih memberikan kesan inspirasional, dan Alaamnya film tentang keluarga lebih menggelitik sekaligus mengharukan. Film keempat, Die Welle, yang akan dibahas disini, saya rasa kesan pertama yang diberikan adalah “ngeri” — memang di IMDb film ini bergenre drama-thriller — karena suatu alasan, bahwa di film ini memang untuk mempraktekkan praktek diktaktor itu mungkin, bisa, dan mudah. Saya yang berlata rbelakang S1 Psikologi khususnya Psikologi Industri & Organisasi merasa tidak capable untuk membahas film ini lebih jauh, mungkin ilmu terapan Psikologi Sosial dan Sosiologi lebih capable. Tetapi saya mengerti benar pesan yang dibawa dalam film ini.

Syaa suka bagaimana penyutradaraan film ini dilakukan, karena mungkin terdapat beberapa kesulitan. Pertama, film ini berdasarkan kisah nyata. Kedua kisah nyata ini melibatkan banyak karakter, mulai dari guru, istri si guru, guru yang lain, dan murid-murid satu kelas yang berjumlah lebih dari 30 orang. Alur ceritanya terus maju, dan bercampur untuk berfokus pada banyak karakter (yg saya maksudkan diatas). Plot tidak hanya berfokus pada si guru saja, tetapi juga diimbangi pada murud-murudnya. Konflik maupaun klimaks yang dibawa saya rasa tidak terlalu didramatisir. Dan yang paling saya sukai adalah ending dari film ini dimana antiklimaks dibuat dengan sangat silence tentunya dipadukan dengan geist/tatapan mata dan ekspresi wajah yang tentunya menceritakan banyak maksud dan kata hati.

cinematicorgasm rate: 78/100

Die Welle aka The Wave (2008)

[08:00, melihat ke truk dan ptgs pemungut sampah] “when i grow up, i wannbe a binman” (Fatma-Almanya)

Director: Yasemin Samdereli | Writers: Yasemin Samdereli, Nesrin Samdereli | Stars: Vedat Erincin, Fahri Ögün Yardim and Lilay Huser

Setelah menonton Baader Meinhof Complex yang sangat melelahkan (ini artinya positif maksud saya sebenarnya), dan John Rabe yang menginspirasi, hari jumat tgl 20 januari 2011, jam 21.00 film terakhir yang saya tonton berjudul Almanya – Willkommen in Deutschland (Alamanya, selamat dtaang di Jerman). Dan menjadi penutup yang sempurna malam itu, krn sepanjang jalan naik sepeda motor saya senyum-senyum sendiri. Sudah lama tdk menonton film yang bergenre seerti ini. sebuah film yang bertemakan drama keluarga mixed with komedi sepanjang film. Dari dua film sebelumnya, saya sudah men-judge untuk menonton film jerman itu butuh banyak energi, sedangkan film Almanya ini energi saya dihabiskan untuk tertawa lepas.

Film ini bercerita ttg Hussein warga Turki yang menjadi buruh di Jerman. Akhirnya dia mengajak seluruh keluarganya ke Jerman, dan hingga anak-anak tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki cucu, mereka tetap menetap di Jerman. Film ini punya tiga kekuatan, pertama adalah, beberapa scene menggunakan “story-telling” untuk menceritakan masa lalu, dan scene memperlihatkan masa lalu saat. Canan (cucu Hussein yg melakukan story telling kepada Cenk, cucu terbungsu) bercerita dg narasi yang sungguh imajinatif bagi anak yang mendengarkannya. Teringat dulu sewaktu kuliah ttg Appreciative Inquiry, sebuah kata-kata hanya sekedar menjadi kata-kata, kecuali menjadi cerita/story, lebih memiliki kekuatan imajinatif dan menggerakkan/motives. Hal ini terlihat jelas pada diri Cenk si kecil. Story-telling yang menyusun kombinasi alur masa kini – masa lalu membuat film ini sangat menyegarkan. Kedua, komedi yang ada di film ini, komedi seputaran orang Turki, budaya Turki, perilaku orang-orang Turki, dan terutama tingkah laku anak-anak Turki. Komedinya terlihat sangat jujur, polos, dan tidak kotor. Ketiga, inti cerita yang memiliki value-added yang absolutely valuable, benar-benar berharga. Sebagai film bergenre keluarga, film ini tidak cukup menghibur saja, tetapi menginspirasi. Nilai seperti apa pentingnya keluarga itu, seperti apa pentingnya kehadiran kita di keluarga kita sendiri, pentingnya sebuah pengertian dan saling memahami antar anggota keluarga, dan pentingnya saling menghargai dengan perbedaan yang ada. Misalnya, anak bungsu Hussein, (kalau tidak salah) bernama Veli, sebagai keturunan Turki dia memiliki istri asli berdarah Jerman. Tak lupa, value yang bisa diambil di film ini adalah agar selalu bangga dengan apa adanya diri kita sendiri, bangga di keluarga mana kita berada, bangga sebagai bangsa apa kita dilahirkan, dan bangga terhadap masa lalu kita dan keluarga kita.

cinematicorgasm rate : 85/100

Almanya – Willkommen in Deutschland (2011)

John Rabe (2009) | Director: Florian Gallenberger | Writers: Florian Gallenberger, Erwin Wickert (book) | Stars: Ulrich Tukur, Daniel Brühl and Steve Buscemi

John Rabe (November 23, 1882 – January 5, 1950) was a German businessman who is best known for his efforts to stop the atrocities of the Japanese army during the Nanking Occupation and his work to protect and help the Chinese civilians during the event. The Nanking Safety Zone, which he helped to establish, sheltered approximately 200,000 Chinese people from slaughter during the massacre [sumber].

Di ending film ini, jika saya tidak salah, ternyata bagi Jerman dia bukan pahlawan. Akan tetapi sangat berbeda kenyataannya bagi rakyat cina terutama Nanking. Sesuai sepenggal artikel diatas yang saya kutip dari Wikipedia, bahwa John Rabe telah berjasa sangat besar atas keselamatan nyata 200.000 rakyat Nanking.

Di film ini bersetting tahun 1937, dimana saat itu Jepang meluaskan jajahannya ke China, dan mulai berniat untuk menguasai wilayah nanking. John Rabe adalah direktur utama Siemens, sebauh perusahaan Jerman yang mambangun koneksi telepon di wilayah Nanking. Dia telah bekerja di Nanking selama 17 tahun, dan sudah tiba saatnya John Rabe bersama istrinya untuk pulang ke Jerman. Sebagai direktur, dia adalah pemimpin yang sangat baik, sangat disukai oleh para karyawannya, dan juga warga Nanking itu sendiri. Sebagai pemimpon yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi, dia juga menyelamatkan beberapa warga Nanking saat terjadi bombardir oleh pesawat Jerman. Hingga pada suatu hari Jepang mulai menginvasi Nanking dengan sangat brutal. Tidak ada satupun tentara China yang dijadikan tawanan melainkan dibantai semuanya. John Rabe akhirnya membatalkan kepulangannya. Bersama seorang dokter, kepala sekolah “collage” wanita, perwakilan dari kedutaan besar, merek amembentuk suatu kawasan yang bernama safety-zone, sebuah kawasan dimana tidak boleh ada tentara dan senjata disitu, khusus ditinggali oleh para pengungsian yang menjadi korban invasi Jepang.

Film ini sangat mirip dengan film yang berjudul Schindler List (1994) yang disutradarai oleh Steven Spielberg, menceritakan pengusaha bernama Schindler yang menyelamatkan banyak pekerja Yahudi dari tangan Nazi. Yang membuat film ini menarik adalah film yang “lengkap”. Alasannya, pertama, film ini Berjudul John Rabe tetapi film tidak hanya berfokus pada John Rabe melulu saja. Latar belakang perang tidak sangat ditonjolkan, akan tetapi juga kehidupan pribadi John Rabe, dan orang-orang di sekitarnya. Seperti, dokter Dr. Robert Wilson yang agak gila, Dr. Georg Rosen seorang perwakilan dari kedutaan, sipur John Rabe yang setia namun bodoh, asisten pribadi John Rabe bernama Han yang sangat loyal, siswa sekolah cewek yang menyukai fotografi, dan sorotan kepada para tentara Jepang itu sendiri. Kedua, lengkap dalam arti naik-turun emosionalnya juga disajikan beraneka ragam. Penonton diajak mulai dari tertawa, terkagum-kagum, cemberut, terpesona, terkejut, terharu, seding, senang, dll. Mulai adegan pembunuhan keji, adegan yang menunjukkan kasih sayang, dan adegan-adegan yang mengisyaratkan lelucon orang Jerman dan orang Inggris, sepanjang film, yang membuat film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton selama 134 menit. Sama sekali tidak membosankan untuk film yang berdurasi 134 menit.

cinematicorgasm rate : 80/100

once again, thanks to Gothe Centrum Surabaya for free ticket and all of the awesome movies

John Rabe (2009)

Director : Uli Edel | Writing credits : Stefan Aust (book), Uli Edel (collaboration), Bernd Eichinger (writer) | Cast : Martina Gedeck (Ulrike Meinhof), Moritz Bleibtreu (Andreas Baader), Johanna Wokalek (Gudrun Ensslin)

thanks to Gothe Institute held #GermanCinema event, and i had watched Der Baader Meinhof Komplex for free..

Diambil dari sejarah nyata di jerman pada tahun 1960an hingga 1970an. Pad atahun itu terbentuk sebuah organisasi resistance bernama RAF (Red Army Faction) atau juga dikenal dg nama Baader-Meinhof Group. Andreas Badeer adalah memganggap dirinya seorang revolusioner, diaa bersama Ulrike Meinhof pergi ke Iran untuk menjalani camp militer. Meinhof sendiri dulunya adalah wartawan yang sering menuai kritik kepada pemerintah maupun pemerintah negara lain yang dianggapnya tidak benar.

The Red Army Faction (German: Rote Armee Fraktion), shortened to RAF and in its early stages commonly known as Baader-Meinhof Group, was one of post–World War II Germany’s most violent and prominent left-wing terror groups. The RAF described itself as a communist and anti-imperialist “urban guerrilla” group engaged in armed resistance against what they deemed to be a fascist state. The RAF was founded in 1970 by Andreas Baader, Gudrun Ensslin, Horst Mahler, and Ulrike Meinhof.
The Red Army Faction existed from 1970 to 1998, committing numerous operations, especially in the autumn of 1977, which led to a national crisis that became known as “German Autumn”. It was held responsible for thirty-four deaths, including many secondary targets, such as chauffeurs and bodyguards, and many injuries in its almost thirty years of activity. Although more well-known, the RAF conducted fewer attacks than the Revolutionary Cells (RZ), which is held responsible for 296 bomb attacks, arson and other attacks between 1973 and 1995.
The group always called itself the “Rote Armee Fraktion”. The terms “Baader-Meinhof Gang” and “Baader-Meinhof Group” or just “Baader-Meinhof” are sometimes used as nicknames for the organization. RAF never used these terms for themselves, but the German media used them to avoid legitimizing the movement as an actual political organisation.[citation needed] Although Meinhof was not considered to be a leader of the RAF at any time, her involvement in Baader’s escape from jail in 1970 and her well-known status as a German journalist led to her name becoming attached to it. There were three successive incarnations of the organization, the “first generation” which consisted of Baader and his associates, the “second generation” RAF, which operated in the mid to late 1970s after several former members of the Socialist Patients’ Collective joined, and the “third generation” RAF, which existed in the 1980s and 1990s.
On 20 April 1998, an eight-page typewritten letter in German was faxed to the Reuters news agency, signed “RAF” with the machine-gun red star, declaring that the group had dissolved. [sumber]

Di atas adalah sekilas dari sejarah Baader danMeinhof pendiri RAF, dan saya disini hanya akan membahas tentang filmnya. Film ini berdurasi 150 menit dan sangat “melelahkan” untuk ditonton. Tidak lama menit-menit awal pembukaan sudah disajikan adegan-adegan kekerasan dengan tension yang cukup tinggi. Begitu juga di sepanjang film yang dipenuhi adengan-adegan kekerasan. Film ini diangkat dari sebuah novel biography dan memang porsi lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Badeer dan Meinhof, mulai dari awal mereka membentuk RAF, saat mereka dipenjara, hingga mereka mati. Yang saya sukai dari film ini adlaah sifat, sikap, perilaku, dan kepribadian Baader dan Meinhof yang cukup mendetail, dan memberikan kesan bahwa mereka adlalah sosok yang sangat bertolak belakang, namun bisa mengumpulkan massa untuk melakukan pemberontakan dan membuat pemerintah jerman repot. Banyak tindakan kriminal yang dilakukan Baader, sednagkan Meinhof hanya menulis, menulis tulisan tidak sekedar kritikan yang tajam, namun juga propaganda dan aksi protes keras. Terasa lebih lelah jika mengetahi bahwa film berdurasi 150 menit ini menceritakan aktivitas Baader Mainhoff selama th 60an dan 70an.

cinematicorgasm rate: 70/100

Der Baader Meinhof Komplex (2008)

Fantasies have to be unrealistic. Because the minute- the second- that you get what you want, you don’t- you can’t- want it anymore”. (David Gale – The Life Of David gale)

Director: Alan Parker | Writer: Charles Randolph | Stars: Kevin Spacey, Kate Winslet and Laura Linney

Film ini bergenre crime-drama dengan sedikit investigation. Saya selalu suka film seperti itu, karena akan snagat sabar menunggu bagaimana the case revealed and how the ending > the bad guy / villain win ? or the good guy win?. Yup, inilah yang menjadi perhatian utama saya menonton film ini. Saya tidak akan memberikan sama sekali spoiler, karena akan sangat tidak seru. Perhatian utama saya yang tertuju bagaimana film ini berjalan hingga membawa pada sebuah ending film yang keren, antagonis/penjahat yang menang? atau protagonis/good cop yg menang?. Dan ending yang saya maksud ini sangat mengejutkan! Sama halnya saat saya terkejut menonton ending dari The Usual Suspects, Kevin Spacey memberikan edning yang mengejutkan di kedua film ini.

Film ini bercerita tentang seorang professor Havard bernama David Gale (diperankan oleh Kevin Spacey) yang hidupnya hancur setelah dituduh memperkosa mahasiswanya. Dia dikeluarkan dari universitas. Hidupnya semakin hancur saat dituduh membunuh kolega sekaligus sahabatnya, Constance Haraway. Gale dan Haraway sebelumnya adalah sama-sama aktivis organisasi massa bernama Death Watch yang menentang putusan yang tidak adil kepada terdakwa yaitu dengan eksekusi mati. Begitu pula dengan David Gale yang namanya sudah tercemar akibat tuduhan pemerkosaan, karena dakwaan membunuh sahabatnya Haraway, dia diputuskan untuk dieksekusi mati. Tiga hari sebelum tanggal eksekusi, Gale memiliki permintaan terakhir, yaitu diwawancarai oleh wartawan yang mengkhususnya pada kejahatan pemerkosaan dan penganiayaan terhadap wanita, bernama Bitsey Bloom (diperankan oleh Kate Winslet). Layaknya wartawan, dia mulai bertanya dan Gale bercerita. Gale bersihkeras tidak bersalah, akan tetapi semua bukti tertuju padanya. Dalam waktu tiga hari itu pula, Bitsey harus memutuskan, apakah menganggap Gale adalah professor kejam dan pembunuh sadis, atau pria yang hanya berada pada tempat dan waktu yang salah?

cinematicorgasm rate : 80/100

The Life Of David Gale (2003)
oldhollywood:

Akira Kurosawa with Martin Scorsese, who is getting made up for his turn as Vincent Van Gogh in Kurosawa’s Dreams (via)

Kau tau film Dreams.. ada karakter Van Gough-nya&#8230; pernah dikasih filmnya sama @pemudasehat

oldhollywood:

Akira Kurosawa with Martin Scorsese, who is getting made up for his turn as Vincent Van Gogh in Kurosawa’s Dreams (via)

Kau tau film Dreams.. ada karakter Van Gough-nya… pernah dikasih filmnya sama @pemudasehat